Stimulus Herd Immunity Film

Oleh Akhlis Suryapati

Pernah digaungkan mengenai stimulus industri film, sebagai bagian dari strategi Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Ratusan miliar dianggarkan, sebagai rangsangan agar perfilman di Indonesia tidak koma berkepanjangan. Ada pula ratusan miliar yang lain, untuk penggiat dan insan film (di luar industri produksi film). Sebelumnya, ratusan miliar lainnya lagi, adalah anggaran tahunan untuk penyelenggaraan perfilman, disalurkan melalui swa-kelola, pemberian dana dukungan, fasilitasi.

“Tolong, mas, dorong temen-temen agar mendaftarkan perusahaan filmnya. Supaya saya punya alasan untuk mengarahkan jajaran anak buah, agar dana stimulus jatuhnya tidak ke kelompok itu-itu saja,” telepon seorang pejabat otoritas kebijakan stimulus perfilman kepada saya. “Masa dari ratusan pelaku industri film, hanya belasan dari kelompok itu-itu saja yang (akan) memperoleh dana stimulus.”

Tolong bagaimana? Lha wong situ yang  penggede saja ndak bisa menolong para anak buah pengambil keputusan itu, agar tidak terjebak dalam mental persekongkolan. Au ah gelap!

Stimulus (perfilman) barangkali semacam vaksin perangsang daya imunitas bagi pelaku industri film. Agar industri film Indonesia punya kekebalan menghadapi krisis pandemik Covid-19.

Ataukah sebenarnya semacam ventilator pembantu pernafasan untuk pasien (perusahaan film) yang nafasnya sudah sengal-sengal, karena perfilman Indonesia memang sudah dalam stadium kritis: hilang rasa, hilang penciuman, ditambah adanya komorbid: kanker monopoli dagang, oligarki produksi dan peredaran,  diabetes impor dan penayangan, mungkin juga obesitas aji mumpung yang ditandai dengan ego-sektoral dalam ekosistemnya.

Jangan-jangan pula, stimulus industri perfilman tidak lebih dari bansos sembako – yang sayangnya hanya untuk belasan pihak dari ribuan pihak yang sama-sama merana dengan adanya Covid-19.  

Dalam rentang setahun lebih pandemi Covid-19 ini, industri perfilman global – termasuk di Indonesia – telah berada dalam teori kekebalan kelompok atau herd immunity. Film sebagai content tetap semarak mengepung kehidupan. Hanya pola produksi, mekanisme peredaran, media pertunjukannya, yang mengalami perubahan.  Pembuatan film tidak leluasa karena adanya protokol kesehatan, mekanisme peredaran tidak perlu lagi ada orang nenteng copy film, media pertunjukan beralih dari bioskop ke Over The Top atau layanan streaming.

Perubahan itu mungkin bertepatan dengan eforia milenial. Namun masalah kekebalan terhadap pandemik Covid-19 rupanya persoalan lain. Dengar-dengar, Oktober nanti, Disney menutup 18 chanel di Asia Tenggara dan Hong Kong, di antaranya adalah saluran film; Fox Action Movies, Fox Family Movies, Fox Movies and Star Movies China. Raksasa industri film itu, kiranya ikut-ikutan masuk sebagai kelompok yang kekebalannya rontok oleh Covid-19. Sedangkan raksasa lain Netflix, sejauh ini terlihat sangat kebal, bahkan sehat-walafiat, berkibar dengan pendapatan 25 miliar USD sepanjang tahun covid 2020 lalu. Netflix juga siap-siap mengembangkan diri ke sektor game interaktif yang evolusinya juga dari film – gambar bergerak.

Herd Immunity berlangsung dalam industri perfilman; sekelompok pihak memiliki  kekebalan tinggi menghadapi krisis pandemi Covid-19, sementara sekelompok yang lain ‘monggo’  silakan mendapatkan efek kekebalan dari mereka, atau kalau tidak kebal ya mati saja sebagai korban pagebluk.

Dalam herd immunity, jika yang memiliki kekebalan di bawah 70 atau 80 persen dari populasi, akan berisiko menuju kemusnahan massal melalui proses homo-homini-lupus – yang perkasa akan memangsa yang lemah – pada gilirannya yang perkasa pun akan ikut musnah dalam kesepian. Moga-moga yang berlangsung hanya di populasi industri yang disemangati persaingan kapital, bukan dalam populasi kreativitas yang dijiwai kebebasan berekspresi.  ** Jakarta, 29 Juli 2021.