Neverending Death of Film

Oleh Akhlis Suryapati

Ketika para pembuat film menyodorkan visual kematian, tujuannya adalah agar penonton terhibur, terpuaskan. Termasuk jika visual kematian itu memberi  daya gugah; adalah daya gugah yang ujungnya untuk kepuasan batiniah.  Seberapa masiv dan massal kematian tergambarkan dalam film, orang menikmatinya.

Sebagaimana juga visual kehidupan dalam film, seberapa getir atau kocak, penonton rela membeli tiket bioskop atau langganan OTT (layanan streaming) untuk memuaskan perasaannya. Setidaknya untuk terhibur!

Hari-hari masa pandemi ini, kematian terasa tidak pernah berakhir. The Neverending of Death. Juga terasa tidak jauh. Apalagi kalau penyebabnya adalah Covid-19: “ Rasanya kita menunggu giliran saja untuk dihinggapi Covid,” kata saudara saya yang bekerja di stasiun televisi dengan lebih 300 karyawan di sana terpapar covid, beberapa di antaranya meninggal dunia.

Bagi yang memiliki media sosial; WattsApp, Facebook, Instagram, Twitter, atau lainnya; dalam sehari bisa satu atau dua lebih kabar kematian – tentang orang-orang dekat, yang kita kenal, setidaknya bukan asing sama sekali. Kita pun mengungkapkan duka; kepada yang mati, keluarga yang mati, juga siaran kepada khalayak ramai: para penghuni media sosial.  

Bedanya adalah;  kematian yang ini tidak bisa re-take. Orang-orang dekat, yang kita kenal, yang bukan orang asing itu; mereka tidak bisa hidup kembali -- tidak bisa memposting di media sosial lagi – membawakan karakter yang sama maupun beda – pun kalau kita mempercayai reinkarnasi atau  kehidupan sesudah mati; faktanya tidak sebagaimana tervisualkan dalam film yang bisa kita lihat.

Para pembuat film terbiasa menciptakan visual kematian. Disodorkan kepada penontonnya; untuk diterima sebagai duka atau suka, kesedihan atau kegembiraan, tangis atau tawa, kekecewaan atau kepuasan, kepenasaran atau sebagai the happy ending.  Tergantung. Yang mati karakter jahat atau pahlawan. Protagonis atau antagonis. Keseluruhannya: Agar penonton puas!

Di lain episode, sekuel, atau judul film yang lain: Aktor-aktor bisa berakting kembali. Visual kematian demi kematian diciptakan lagi; dalam tragedi atau komedi, dalam horor atau melodrama. Melalui desingan peluru, ledakan bom, reruntuhan bencana, tebasan pedang, ayunan golok, atau sebuah visual kematian yang  tenang menghanyutkan, sunyi dan hening, perlahan, slow-motion; yang mati berkesempatan bicara panjang lebar a b c d sebelum nafas benar-benar lepas.

Film telah memberi banyak pengetahuan tentang kematian – selain kehidupan --  sejauh imajinasi pembuatnya berkelana, sedalam penghayatan mereka meresapinya.  Lalu sebagai ‘pencipta’ gambar hidup, seperti mewakili Tuhan, menentukan berlangsungnya peristiwa, alur cerita, plot dramatika, juga menentukan siapa mati dan bertahan hidup, siapa lemah siapa kuat, siapa kebal siapa rentan, siapa khusnul khotimah dan siapa mati penasaran.

Tidak sedikit imajinasi sineas dalam fiksionalnya yang berbasis fakta, menembus dimensi ketuhanan – keghaiban – hingga mampu memvisualkan, misalnya,  tentang hidup sesudah mati; arwah yang berkeliaran, alam kubur, padang mahsyar, surga neraka, dan seterusnya. Semaunya itu untuk disodorkan kepada penontonnya, sebagai daya gugah atau hiburan.

Lalu apa sih maksud tulisan ini?

Hanya mencoba belajar dari para kritikus: Bahwa semakin film memiliki prolog yang mengikat, konflik yang tajam, dan ending yang penuh kejutan – disertai visual penuh efek artistik, dentingan atau gemuruh audio dolby -- maka penonton akan semakin terpuaskan.

Menghadapi alur, plot, dan (membayangkan) ending dari Pageblug Covid-19 ini - serta melihat efek artistik dan mendengarkan denting-gemuruh audionya -- bisakah batin terhibur dan terpuaskan seperti kalau membuat atau menyaksikan film? – Jakarta 2 Agustus 2021