Kritik Film dan Asas Paradigma

Oleh Akhlis Suryapati

Bahkan Penguasa suatu ketika minta dikritik. Barangkali karena tanpa kritik, kekuasaan jadi terasing. Hidup terasa hambar. Bak makan tanpa garam – seperti orang kena Covid, tak ada rasa – tanpa penciuman.  Ibarat bersolek tanpa cermin. Laksana berpose tanpa juru foto. Hanya selfie yang distorsi. Memposting tanpa ada yang like atau dislike.

Film dan perfilman mungkin juga begitu. Tanpa ada kritik, maka terasing dalam ruangannya sendiri. Bak kodok dalam tempurung. Suara teyot-teblungnya terdengar nyaring, raganya terkurung dalam kegelapan. Tidak mendapatkan cahaya. Karenanya, berpotensi seperti  buta, tidak tahu arah, hilang gerak dan tingkah laku, buntu berpikir. Istilah ringkasnya: Tanpa paradigma.

Masih lumayan kalau hari ini dalam menghadapi perubahan zaman (perubahan itu bisa menjadi baik atau menjadi buruk), kita sering bilang: Perlunya ‘mengubah paradigma’ atau menyarankan ‘paradigma baru’.  Maksudnya adalah; kita perlu mengubah atau memperbaharui disiplin intelektual dalam cara pandang (diri kita dan terhadap film) meliputi berpikir (kognitif), bersikap (afektif), bertingkah laku (konatif). Lha, bagaimana kalau ternyata sudah lama kita tidak mempunyai tradisi menggunakan disiplin intelektual?

Di zaman milenial yang berbasis digital, teknologi sudah menyediakan banyak piranti untuk antisosial dengan mengkritik diri sendiri seperti disediakan oleh Facebook, curhat atau narsis ke follower dan subscriber  di dunia maya, meratap dan menyombong melalui status, tweet, and comment. Namun rupanya perubahan zaman dengan lifestylenya tidak sertamerta melenyapkan asasi – kebutuhan dasar, pokok – fitrah – yang sudah dikodratkan. Demikianlah pula kehidupan sosial, demikian pula film sebagai pranata sosial. Lagipula, tanpa disertai disiplin intelektual, postingan-postingan di media sosial tidak cukup untuk disebut kritik, malah bisa menjadi bully.

Asasi sebagai kebutuhan hakiki, adakalanya tidak kita lindungi, tidak kita jaga, tidak kita hormati. Istilah politiknya:  melanggar hak asasi. Kita pun mengabaikan asasi film, hakikat  film, fitrah film; sebagai sebuah karya cipta seni budaya – yang juga diamanatkan oleh undang-undang perfilman. Situasi seperti itu menggerus paradigma.  Hilang  disiplin intelektual dalam memikirkan, menyikapi, dan memperlakukan film. Ketika berhadapan dengan perubahan yang bak kuantum – melompat-lompat dengan cepat -- kita menyediakan diri sebagai instan; dengan perasaan eksis kekinian dan gagah- genit, untuk diterima  sebagai  milenial-digital. Sejarah adalah sekarang. Bullshit arsip masa lalu. Riset, penelitian, kepustakaan, acuan, dan semacamnya, itu kan tradisi intelektual yang tidak milenialism.

Syukur alhamdullillah, tidak seburuk itu. Denger-denger muncul kesadaran perlunya tradisi intelektual dalam bentuk Kritik Film. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebut: Kecaman atau tanggapan, kadang- disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya, pendapat, dan sebagainya. Dalam ensiklopedia bebas Wikipedia disebut sebagai proses analisis dan evaluasi terhadap sesuatu dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman, memperluas apresiasi, atau membantu memperbaiki pekerjaan (karya). Dikatakan di situ, kritik berasal dari bahasa Yunani kritikos yang berarti ‘dapat didiskusikan’.  Kritikos diambil dari kata krenein yang berarti memisahkan, mengamati, menimbang, dan membandingkan.** (Jakarta, 3 Agustus 2021)