Kesederajatan Primordial Film

Oleh Akhlis Suryapati

Di Indonesia, Film Bioskop punya simbol penghargaannya (antara lain) bernama Piala Citra. Film Televisi simbol penghargaannya bernama Piala Vidia. Untuk Film Video – yang dirintis oleh perusahaan Trio Tara (1980) berupa  film yang dibuat dan diperuntukkan untuk Palwa (istilah LSF menyebut Rental Home Theatre) – pernah ada simbol penghargaannya, namun tidak sempat popular. Sekarang muncul Film Web atau Film Streaming.  

Keponakan-keponakan yang hendak  mewujudkan Keadilan Apresiasi Bagi Seluruh Film Indonesia, dengan gagah semangat ingin menembus batas-batas pengelompokan  itu. “Film Bioskop, Film Streaming, Film Televisi, Film Video, kami perlakukan sederajat untuk hak mendapatkan award dalam tempo sama dan seksama.  Gimana, Oom?”

“Baguslah,” kata saya. “Niat mulia.”  Beralih Masa, Bertukar Rasa.

Para ahli pernah memberikan pengetahuan  kepada kita, tentang adanya Film Bioskop, Film Televisi, Film Video, sekarang ada Film Web atau Film Streaming. Pengelompokan, kategorisasi, klasifikasi, juga genre, dan semacamnya, berguna untuk  mengenali, memahami, dan membedakan, antara yang satu dengan lainnya.

Pengelompokan film selain mengacu pada media pembuatan, penyimpanan, dan pertunjukannya, ada pengelompokan berdasar cita-rasa; Drama, Komedi, Action, Perang,  Legenda, Horor, Thriller, Suspense, Petualangan, Crime, Epic, Fantasi, Biopic, dan seterusnya.

Ada juga Pengelompokan Jenis, misalnya: Film Cerita, Dokumenter, Dokudrama, Iklan, Company Profile. Pengelompokan Durasi: Film Panjang, Film pendek. Pengelompokan Satuan: Film Utuh, Serial, Omnibus. Pengelompokan lainnya: Film Nasional, Film Regional, Film Daerah, Film Lokal, Film Impor, Film Asing.

Para kritikus bisa lebih lihai menemukan gagasan pengelompokan film, yang kemudian menjadi konvensi. Misalnya dengan menyebut adanya kelompok  Film Anak-anak, Film Remaja, Film Dewasa. Boleh juga dipatenkan: Film Animasi, Film Kartun, Film Eksperimental, Film Virtual . Ini pula: Film Mainstream, Film Art, Film Propaganda.  Pengelompokan bisa semakin banyak lagi, karena di antara kelompok-kelompok itu telah berlangsung kawin campuran dan kawin silang yang melahirkan anak-cucu pengelompokan baru.

Konsep pengelompokan muncul dari ‘sononya’ kebudayaan. Sebagaimana semangat primordial muncul dalam konsep primordialisme – dari kata Primus (pertama) dan ordiri (ikatan) – di mana manusia berkehendak mengidentifikasi diri seraya menjunjung ikatan nilai-nilai, norma, tradisi, yang bersumber dari asal-usul dan kebudayaannya.

Menyatakan fakta bahwa ada Pribumi, Bumiputra, Asing, Imigran, Espatriat, Pelancong – bukanlah sesuatu yang rasis atau menentang kesederajatan atau persatuan. Maka ada istilah WNI dan WNA. Seperti juga tidak tabu kalau kita menyebut sebagai Orang Jawa, Sunda, Batak, Ambon, Sasak, Cina, Arab, dan seterusnya.   Pada gilirannya lahir kelompok hasil kawin campuran dan kawin silang yang disebut blasteran.  Munculnya istilah Kearifan Lokal juga bermula dari konsep pengelompokan semacam ini. Kearifan Lokal tidak bertentangan dengan Kearifan Universal – apalagi sebagai fanatik radikal yang mengancam tata-krama internasional.

Nah, keponakan-keponakan itu sempat bingung ketika  mentaati maupun mengesampingkan fakta pengelompokan.  Sebingung ketika hendak membangun kesederajatan, kebersamaan, persatuan, pemerataan,  ketunggalan, keikaan, keemansipasian, dan sebagainya.

Hitung berapa banyak jenis dan ragam yang disebut Bioskop, Televisi (Penyiaran), Rental Video, dan Layanan Streaming atau OTT (Over The Top).  

Ada bioskop jaringan, bioskop tunggal, bioskop independen, bioskop alternatif, bioskop apresiasi, bioskop mini.  Ada Televisi (penyiaran) Nasional, Televisi Lokal, Televisi Komunitas, Televisi Network, Televisi Kabel, Televisi Digital,   juga IPTV (Internet Protocol Television). Rental Video, nah ini yang menuju musnah – dulu ada Trio Video Tarra, Disc Tarra, serta ribuan Rental Video berikut adanya film yang khusus dibuat dan diperuntukkan di sana.

Layanan Streaming OTT  yang menayangkan Film Web atau Film Streaming tadi, juga mempunyai  jenis dan ragam yang banyak sekali.  Dari Youtube dengan ribuan channelnya, Netflix, Iflix, Disney, Catchplay, Viu, GoPlay, Amazon, Tencent --  dan kalau kita sempet browsing searching -- film Indonesia yang ditayangkan di sana makin banyak saja, termasuk yang produksi baru.

Untuk membesarkan semangatnya, kapada keponakan-keponakan saya sarankan:  Kalau tak cukup waktu dan kesempatan nonton, mengkritisi, dan mengapresiasi, seluruh film Indonesia yang tayang di semua media pertunjukannya itu, tuangkan saja tagline kalian pada spanduk, baner, bilboard, postingan, meme, status, tweet, comment, pokoknya apa saja sarana publikasi yang terjangkau. Seperti slogan: ‘Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh’ atau ‘ Saya Pancasila, NKRI Harga Mati.’  Soal acara kalian tidak tangguh dan tidak tumbuh, kan sudah biasa. Antara slogan harapan dengan tindak kenyataan  tidak harus selaras.  Suwun.  (Jakarta, 4 Agustus 2021)