Juri Film on the Trust

Oleh Akhlis Suryapati

Tujuh atau Sembilan orang nonton film di ruang bioskop untuk memberikan penilaian. Ada yang tekun menyimak sejak dari bumper-in trademark sampai credit title bumper out. Ada yang ngantuk,  melucu, ngemil, keluar-masuk ruangan ke toilet atau menerima tamu. Setelah itu berlangsunglah perdebatan, adu argumentasi, otot-ototan. Kalau di antara mereka ada punya kaitan dengan film yang dinilai; jangan omong, diam saja, tak boleh komentar, suruh keluar ruangan.  Dalam suasana seperti itu, pernah ada yang teriak- ancam mengundurkan diri, nggebrak meja, merobek formulir, ada juga yang asal menyahut setuju dan tidak setuju.

Di acara puncak festival film, hasil penilaian diumumkan. Yang meraih penghargaan reputasinya meninggi,  namanya makin popular, order mengalir, besaran honor berlipat.  

Itu masa ketika kompetisi dalam festival film di Indonesia mendapat kepercayaan dari insan film, masyarakat perfilman, juga masyarakat luas. Kepercayaan. Trust. Bukan karena jumlah jurinya enampuluh atau seratus,  atau karena ‘paling tahu dan ngerti’ mengenai akting, penyutradaraan, editing, kamera, musik film, dan sekian banyak unsur di film itu. Komposisi Juri  adalah tokoh-tokoh untuk mewakili daya apresiasi masyarakat – bukan daya keterampilan.

Kepercayaan atau The Trust adalah pondasi timbal-balik para pihak untuk saling beramanah. Dalam hal hubungan antara festival film dengan masyarakat, trust menjadi pondasi di mana masyarakat meyakini bahwa juri melaksanakan amanat apresiasi mereka, sedangkan para juri meyakini bahwa masyarakat mempunyai daya apresiasi yang harus dipresentasikan. Maka penilaian bukan sekadar angka-angka, rekapitulasi, penjumlahan, hasil audit – melainkan juga perdebatan dan adu argumentasi berbasis wawasan perfilman maupun kemasyarakatan.

Dari situ kiranya, peristiwa festival film, piala, penghargaan, dan hal-hal yang menyertainya, menjadi punya marwah. Maka festival film disebut peristiwa budaya. Punya rasa, tahan masa.

Demikian itu cerita lama. Jadul. Menurut Tetangga, orang yang melulu bicara tentang masa lalu, tandanya dia generasi tuwir, lansia, manula, tua bangka – meskipun usianya baru 30 atau 40 tahun.   “Teman-teman Sampeyan, meskipun usianya 60 atau 70 tahun, termasuk generasi muda milenial kalau bicaranya, tulisannya, postingannya, statusnya, tweetnya, commentnya,   adalah inspiring hari ini dan masa depan. Aktual, kontekstual, visioner,” kata Tetangga itu.

Baiklah. Saya bicara masa kini. Beralih masa, bertukar rasa. Indonesia tangguh, Indonesia tumbuh. Festival Film sekarang ini tidak jadul seperti tahun 1955; yang  diselenggarakan dan dilaksanakan masyarakat perfilman, wartawan, kritikus, budayawan; yang sumber dana awalnya dari Produser Djamaluddin Malik, dari donasi yang dihimpun Usmar Ismail dan kawan-kawan. Festival Film sekarang bukan karena produser mengeluarkan CSR-nya. Panitia tidak perlu menghimpun donasi atau sponsor. Uang negara cukup untuk mengcover semuanya. Pemerintah sebagai penyelenggara. Wartawan jadul akan menuliskannya sebagai Plat Merah.

Pada bagian kompetisi, penilaian film tidak perlu lagi di ruang bioskop yang disediakan panitia. Tak perlu ada gebrak meja, merobek formulir, adu argumentasi, perdebatan. Menonton dan menilai film di komputer, smart tv, atau handphone, dengan membuka file kiriman via email. Pertemuan juri via zoom atau google meet. Tuangkan angka-angka pada aplikasi formulir; ada audit berbasis digital; rekapitulasi, penjumlahan, dan lain sebagainya.

Apalagi di masa Pandemi Covid-19; pakai masker harga mati, tidak pakai masker bisa mati. Jaga jarak. Hindari kerumunan. Di acara pendukung juga tak perlu ada selebrasi, pawai artis, pameran perfilman, apresiasi pekan film, kampanye film, bakti sosial, dan hal-hal semacam itu.

Era milenial, bukan tahun 1955 – 1973 – 1981 atau 2004. Tahun-tahun yang sebut barusan, adalah tonggak-tonggak perubahan pelaksanaan festival film yang tetap berporos pada tradisinya, seperti roda atau kitiran; berputar tanpa lepas dari sumbu. Lagipula tradisi itu kan seperti baju; kalau ukuran dan modelnya sudah ndak pantes, ya ganti baju baru yang kekinian. Nama tetap baju atau pakaian. Model, jahitan, warna-warninya yang beda. Fungsi sama: menutup aurat dan fashion. Kesantunan menutupi aurat dan keelokan penampilan, itulah ukuran rendah tingginya kebudayaan.

Oh ya, juri adalah para pakar praktisi film – meraka yang paling ngerti. Tak harus mewakili  daya apresiasi masyarakat. Substansi piala tidak harus sebagai simbol penghargaan dari masyarakat kepada insan film, melainkan sebagai sesama insan film saling memberi penghargaan. Itu lebih kekinian. Sesama jeruk saling memberi kesegaran, begitulah kira-kira.

Beralih masa, Bertukar Rasa. Lebih segar atau menjadi kecut, tergantung jeruknya. Duitnya dipakai untuk festival, masyarakat silahkan membeli jeruk sendiri di suparmarket atau lapak kaki lima. ** Jakarta, 5 Agustus 2021