akhlis suryapati

Kesederajatan Primordial Film

Oleh Akhlis Suryapati

Di Indonesia, Film Bioskop punya simbol penghargaannya (antara lain) bernama Piala Citra. Film Televisi simbol penghargaannya bernama Piala Vidia. Untuk Film Video – yang dirintis oleh perusahaan Trio Tara (1980) berupa  film yang dibuat dan diperuntukkan untuk Palwa (istilah LSF menyebut Rental Home Theatre) – pernah ada simbol penghargaannya, namun tidak sempat popular. Sekarang muncul Film Web atau Film Streaming.  

Kritik Film dan Asas Paradigma

Oleh Akhlis Suryapati

Bahkan Penguasa suatu ketika minta dikritik. Barangkali karena tanpa kritik, kekuasaan jadi terasing. Hidup terasa hambar. Bak makan tanpa garam – seperti orang kena Covid, tak ada rasa – tanpa penciuman.  Ibarat bersolek tanpa cermin. Laksana berpose tanpa juru foto. Hanya selfie yang distorsi. Memposting tanpa ada yang like atau dislike.

Neverending Death of Film

Oleh Akhlis Suryapati

Ketika para pembuat film menyodorkan visual kematian, tujuannya adalah agar penonton terhibur, terpuaskan. Termasuk jika visual kematian itu memberi  daya gugah; adalah daya gugah yang ujungnya untuk kepuasan batiniah.  Seberapa masiv dan massal kematian tergambarkan dalam film, orang menikmatinya.

Sebagaimana juga visual kehidupan dalam film, seberapa getir atau kocak, penonton rela membeli tiket bioskop atau langganan OTT (layanan streaming) untuk memuaskan perasaannya. Setidaknya untuk terhibur!

Stimulus Herd Immunity Film

Oleh Akhlis Suryapati

Pernah digaungkan mengenai stimulus industri film, sebagai bagian dari strategi Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Ratusan miliar dianggarkan, sebagai rangsangan agar perfilman di Indonesia tidak koma berkepanjangan. Ada pula ratusan miliar yang lain, untuk penggiat dan insan film (di luar industri produksi film). Sebelumnya, ratusan miliar lainnya lagi, adalah anggaran tahunan untuk penyelenggaraan perfilman, disalurkan melalui swa-kelola, pemberian dana dukungan, fasilitasi.

Film Indonesia dan Toxic Positivity

Oleh Akhlis Suryapati 

Menghilangnya gagasan film-film kritis bertema kritik (sosial, politik, hukum, hak asasi, dan sebagainya) dari khasanah tema perfilman Indonesia, jangan-jangan karena para sineas terjebak Toxid Positivity – sebuah pengkondisian perasaan untuk selalu berpikir dan bersikap positif seraya menolak emosi negatif. Hilang kepekaaan, ketersentuhan, gagasan-gagasan yang mereaksi situasi kekinian dari sisinya yang buruk.